Banyak
keluarga muda punya cita-cita membangun rumah
yang sesuai dengan seleranya. Namun apa daya,
kadang mimpi tidak sesuai kenyataan. Uang pas-pasan,
itu pun pinjaman dari kantor. Maka kerap kali
cita-cita tidak kesampaian. Beli saja rumah jadi.
Soal kualitas dan selera terpaksa dikesampingkan.
NAMUN, mungkin
ini ada jalan keluarnya. Misalnya beli saja tanahnya
kemudian bangun rumahnya secara bertahap. Untuk
itu perlu memperhatikan beberapa langkah berikut
ini.
Pertama,
yang paling penting tentu saja buat blue print
rumah. Kalau bisa, konsultasikan dengan rekan
yang tahu soal mendesain rumah. Blue print akan
menjadi pedoman Anda mengurus izin mendirikan
bangunan alias IMB. Ingat jangan main bangun tanpa
IMB. Alih-alih ngirit, malah kantong jadi jebol.
Kalau IMB sudah di tangan, Anda tinggal membuat
skala prioritas ruang mana dulu yang akan dibangun
lebih dulu Kedua, maklum dana kita kan terbatas.
Jadi yang penting-penting dulu (esensial), misalnya
kamar mandi dan ruang keluarga. Ruang keluarga
untuk sementara bisa multifungsi sebagai kamar
tidur, ruang makan, dapur. Sedangkan kamar mandi
tadi sangat diperlukan.
Ketiga,
finishing, yang merupakan komponen cukup besar
dalam membangun (bisa 30 persen dari harga bangunan)
bisa dilakukan pelan-pelan. Dinding luar boleh
saja tidak diplester dan dicat. Tapi dinding dalam
kalau bisa di kapur atau diselesaikan dengan cara
lainnya. Atau sama sekali memang dinding diekspose
(tanpa finish), tetapi dengan catatan pengerjaan
harus rapi.
Keempat,
pemilihan cat dinding pun dianjurkan yang terang-
terang (warna terang). Untuk menghemat pencahayaan
buatan (lampu). Perlu dibuat rak-rak secukupnya.
Maklum, ruangan multifungsi ini pasti menjadi
ajang kumpul keluarga. Jadi, barang masing-masing
penghuni, pasti berserakan di sana sini.
Kalau kemudian
uang agak berlebih lagi, boleh juga membangun
kamar pembantu dan kamar mandinya. Sementara area
untuk jemur pakaian disisakan dari halaman di
belakang.
Sementara
Anda sudah bisa mendiami, uang pun terkumpul lagi.
Anda bisa menambah kamar tidur utama dan kemudian
satu kamar tidur anak dan seterusnya sampai bangunan
secara keseluruhan berhasil didirikan.
Memang membangunnya
perlu kesabaran dan perencanaan matang. Namun
setidaknya keprihatinan Anda membuahkan kepuasan
tersendiri. Inilah “istana” Anda,
yang Anda bangun sesuai dengan keinginan Anda.
NAMUN, bagaimanapun
juga ada keuntungan dan kerugian apabila membangun
sendiri rumah tumbuh dibandingkan dengan membeli
langsung jadi.
Kelebihan
1. Anda
membangun rumah sendiri, kalau perlu Anda terlibat
langsung dalam pengawasan pelaksanaan maupun pengawasan
keuangan. Berarti Anda mendapatkan bangunan dengan
kualitas dan harga dan desain rumah yang paling
baik dari yang Anda inginkan.
2. Anda
bisa menentukan sendiri progres/jadwal pembangunan
rumah Anda. Sesuai dengan keadaan keuangan. Jadi,
Anda tidak terikat dengan jadwal cicilan seperti
kalau Anda membeli dengan fasilitas KPR (kredit
pembelian rumah).
3. Anda
bebas menentukan lokasi dari rumah Anda. Dan kalau
sedikit beruntung, Anda mungkin bisa mendapat
lokasi yang sedikit mendekati pusat kota/dekat
dengan lokasi kerja Anda sehingga di kemudian
hari Anda dapat menghemat waktu dan uang transpor
Anda.
4. Anda
bisa melakukan perubahan-perubahan desain yang
mungkin Anda inginkan atau Anda perlukan dalam
proses pembangunan.
5. Karena
Anda sendiri terlibat banyak dalam pembangunan.
Di kemudian hari Anda bisa melakukan sendiri perawatan
dan perbaikan rumah Anda.
6. Anda
bisa menikmati kepuasan tersendiri dalam proses
membangun maupun pada saat mendiami rumah Anda.
Dan Anda sedikit banyak mendapatkan suatu pengetahuan
dan keahlian yang mungkin akan berguna di masa
datang.
Kerugian
1. Anda
harus mempunyai dana sedikit banyak di permulaan
untuk mendapatkan lahan.
2. Anda
atau istri Anda harus bisa meluangkan waktu sedikitnya
tiga jam sehari untuk mengurus dan mengawasi jalannya
pembangunan rumah Anda.
3. Karena
lahan Anda bukan dalam kompleks perumahan baru.
Kemungkinan besar Anda tidak dapat menikmati fasilitas
umum yang memadai.
Berikut
tips yang perlu diperhatikan kalau Anda telah
memutuskan untuk membangun sendiri rumah Anda
secara bertahap:
1.
Karena harus membeli lahan sendiri, Anda harus
berhati- hati dalam mendapatkan lahan tersebut.
Sebelum memutuskan untuk membeli perhatikan surat-surat.
Periksa ke BPN (Badan Pertanahan Nasional) setempat.
Periksa ke Dinas Tata Kota/ Daerah untuk peruntukan
dari lahan Anda. Apakah di lahan Anda boleh dibangun
rumah tinggal yang sesuai dengan keinginan Anda.
Kalau di DKI Jakarta informasi bisa di dapat di
kantor kecamatan setempat.
2. Rancang
bangun untuk rumah tumbuh tentu sedikit memerlukan
keahlian teknis untuk membuatnya. Jangan ragu-ragu
memanfaatkan tenaga ahli perancangan. Mereka tidak
semahal yang diperkirakan dan Anda akan mendapatkan
bahwa bantuan mereka bernilai manfaat lebih dari
imbalan jasanya. Atau Anda bisa memanfaatkan bantuan
konsultasi arsitektur Cuma-Cuma dari Lembaga Bantuan
Arsitektur, lembaga pengabdian masyarakat yang
disediakan oleh IAI (Ikatan Arsitektur Indonesia)
yang tersebar di seluruh provinsi Indonesia. Atau
yang disediakan oleh perguruan tinggi-perguruan
tinggi yang memiliki jurusan Arsitektur.
3. Tentukan
tinggi permukaan lantai rumah Anda sedikitnya
60 cm dari permukaan jalan di depan rumah Anda.
Untuk mangantisipasi kemungkinan dinaikannya permukaan
jalan tersebut di kemudian hari.
4.
Kalau Anda sendiri harus membeli bahan bangunan,
Anda harus rajin men-”survei harga”
dan juga kualitas. Karena, kecuali untuk bahan
tertentu, seperti semen dan cat, harga dan kualitas
sangat bervariasi. Katakan kepada penjual bahwa
Anda akan menghuni rumah yang sedang Anda bangun.
Anda akan ditawarkan kualitas bahan yang baik.